DEMI (M)AKRAB RELA GUNDUL

Sosiolog, Samuel Koening berpendapat bahwa perubahan sosial adalah perubahan dalam masyarakat yang terjadi akibat adanya modifikasi dalam pola kehidupan. Media  sosial dapat mengubah prilaku masyarakat secara drastis bahkan prilaku masyarakat tidak dapat terkontrol lagi akibat hadirnya budaya baru ini. Hal ini juga tidak luput terjadi dalam dunia pendidikan tinggi. Tidak sedikit tenaga Dosen dan pendidik yang mengeluh menghadapi perilaku mahasiswa baru yang semakin acuh dan kehilangan norma-norma kesopanan. Kebebasan berekspresi di social media terbawa sampai di ruang-ruang kuliah.  “nyinyir” pada saat dosen mengajar di kelas.  Pada sisi lain tata krama atau kesopanan adalah soft skill yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja.

Kami beruntung, semua menyadari sejak awal, sebelum virus itu menjadi akut dan susah disembuhkan. Diprakarsailah pertemuan kecil, dan semua yang hadir pada rapat kecil sepakat. Bahwa Perubahan lebih efektif kalau dimulai dari atas. Lalu dimulailah proyek perbaikan  mental block itu CANDRAMAWA, ialah proyek pembangunan karakter dari, oleh dan untuk mahasiswa.

Proposal acara dibuat, dan keluarlah angka. Pertanyaan berikutnya darimana angka-angka itu bisa diperoleh, membiayai kegiatan itu tentunya. Maka bersepakatlah mahasiswa, cari uang bersama. Tiap pagi bawa makanan, dijual ke teman-temannya, untungnya diambil untuk biaya CANDRAMAWA, jual  Merchandise ke dosen-dosennya, dan juga ke tenaga pendidikan yang ada. Masih belum cukup juga, berangkatlah bersama jualan di Car Free Day, Semarang.

Semua sudah berjalan sesuai rencana, diluar perhitungan sewa bis terlalu mahal (untuk mahasiswa), untung ada seorang dosen industri yang baik hati. Bukan anak muda kalau tidak banyak akalnya, sekalian kesempatan bagi mahasiswa mempraktekkan mata kuliah “Teknik Komunikasi”. Salah satu dosen Industri pun di lobi, agar membantu mahasiswa menyewakan bus di perusahaannya, “harga mahasiswa” lobinya Goal. Acara belum mulai panitia sudah riang gembira, tanda-tanda suksesnya acara sudah terasa.

Sampai Akhirnya akhir minggu kemarin proyek yang digagas sendiri oleh mahasiswa itu terwujud juga, di sebuah villa di Bandungan, Semarang, “Pecah”.  Kebersamaan itu muncul di bandungan, senyum dan tawa menyebar, semua merasa menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan. Modal awal yang bagus membangun jaringan di masa mendatang, Connect to Collaborate dipilihlah menjadi tema CANDRAMAWA.

Akhirnya para dosen pun gembira, mahasiswa menyadari bersama, untuk berubah memang harus dari dalam dirinya. Kini 3 Soft Skill dikuasai mahasiswa, Team Building, Negotiation Skill, & Problem Solving. Anak muda (baca=mahasiswa) memang harus diberi banyak-banyak tantangan untuk masalah yang mereka buat sendiri. Inilah Problem Based Learning sesungguhnya.

Pasang surut industri furnitur, memang harus disiasati, untuk itu perlu tim-tim tangguh yang harus disiapkan. Digembleng khusus, dibangun solidaritasnya, agar mereka survive, dan Industri Furnitur Indonesia kecipratan berkah kebersamaannya, Sejak kapan, sejak mahasiswa tentunya. Kakak yang baik adalah kakak yang merasa ikut bertanggung jawab dalam hal membangun budaya organisasi yang baik, sistem yang baik. Adik-adiknya pun yang tadinya bandel sekarang ikutan baik juga, malu sama kakak-kakak tingkatnya. Mereka pun ikutan kompak, yang laki-laki menggunduli rambutnya sama-sama. Padahal kegiatan ini Cuma Makrab (Malam Keakraban), bukan Mandul (Malam Penggundulan).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *